Rabu, 10 Oktober 2007

Entrepreneur tak lekang oleh panas

Sosok seorang entrepreneur yang sukses adalah manusia yang memiliki kombinasi karakter, kecakapan hidup, dan wawasan bisnis tertentu. Semakin kuat karakter yang dimiliki, semakin tajam kecakapan hidup, dan semakin luas wawasan bisnis yang ada di kepalanya maka semakin besar kemungkinan dia meraih keberhasilan.
Karakter sebagai salah satu pilar utama seorang entrepreneur merupakan prasyarat pertama yang tidak dapat ditawar. Bila di dalam diri para juara olympiade terdapat serangkaian karakker unggul yang membedakan, demikian juga konglomerat (entrepreneur sangat sukses). Mereka memiliki keunggulan dan keunikan karakter yang membedakan dengan mereka yang bukan entrepreneur atau entrepreneur biasa.
Karakter entrepreneur
Karakter secara sederhana adalah kebiasaan bertingkah laku yang telah melekat dalam diri seseorang yang mucul secara otomatis dalam situasi apapun. Bila tingkah laku itu hanya muncul sekali-kali dan dalam situasi tertentu maka itu bukan karakter.
Sebagai contoh, seseorang dapat menampilkan diri sebagai orang yang ramah di tempat kerja, karena tuntutan pekerjaan, tapi ketika kembali ke rumah keramah tamahan itu hilang.
Tidak demikian untuk mereka yang memang memiliki karakter ramah (friendly), mereka tidak perlu mengatur diri untuk menjadi ramah di tempat kerja. Untuk mereka keramah tamahan muncul secara alamiah dan otomatis. Sam Walton pendiri Wal Mart pernah mengatakan bahwa dia mencari orang-orang yang ramah (friendly person) untuk menjadi stafnya dan bukan sekadar orang yang bisa tampil ramah.
Sedikitnya terdapat lima karakter entrepreneur yang membedakan dan menjadi ciri unik mereka. Pertama, gemar mencari peluang (opportunity seeker). Entrepreneur sejati tidak puas dengan apa yang telah dicapai, mereka ingin terus berkembang dan gemar mencari peluang baru.
Seorang entrepreneur AS berhasil menambah kekayaannya gara-gara perang Teluk. Ketika perang masih berkecamuk dia menawarkan diri untuk membersihkan bangkai mesin perang kepada negara-negara Timur Tengah. Yang dia dapatkan adalah ongkos membersihkan sekaligus bonus besi bekas yang sangat besar jumlahnya.
Peter Drucker almarhum, seorang pakar manajemen kelas dunia, mendefinisikan perilaku entrepreneur sebagai berikut: Para entrepreneur selalu mencari perubahan, merespon perubahan dan mengeksploitasi perubahan sebagai sebuah peluang.
Kedua, berani mengambil risiko yang terukur. Seorang entrepreneur sejati berani mulai, berani beda, berani gagal, dan berani rugi. Seorang kawan penulis adalah contoh entrepreneur sejati, dia mengatakan bila terdapat sebuah peluang bisnis dengan kemungkinan sukses hanya 20% maka dia akan tetap melakukannya.
Alasannya, risiko bisnis sudah terukur. Anggaplah dia gagal maka besar rugi maksimum sudah dia perhitungkan sebelumnya. Bila berhasil hanya 20% maka tidak banyak orang yang berani melakukan investasi, kompetitor akan berkurang. Jadi kemungkinan untuk berhasil lebih dari 20%.
Ketiga, kreatif dan inovatif. Setiap orang yang berhasil dalam profesinya cenderung kreatif dan inovatif. Lalu adakah keunikan proses kreatif seorang entrepreneur? Seorang entrepreneur sejati memusatkan proses kreatifnya kepada kebutuhan pelanggan, apa yang dianggap baik dan bagus oleh pelanggan dan bukannya kepada apa yang dia sendiri anggap baik dan bagus.
Selera pasar
Seorang seniman membuat karya seni yang dia anggap terbaik dan kemudian menawarkannya kepada publik. Namun, seorang seniman yang memiliki jiwa entrepreneur akan memulainya dengan kebutuhan pelanggan. Dia akan memulainya dengan mencari tahu dan berpikir karya seni seperti apakah yang paling dihargai oleh pasar kemudian berkreasi dan berkarya dengan panduan itu.
Keempat, senang bekerja keras. Seorang karyawan bisa saja tidak senang bekerja keras namun bisa terus bertahan di dalam pekerjaannya sampai pensiun. Tidak demikian dengan entrepreneur, tanpa kegairahan dalam bekerja dengan segera dia akan 'dipecat' oleh 'boss' yang paling kejam yaitu para pelanggan.
Siapa sih yang mau melakukan transaksi dengan seseorang yang tidak bersemangat dengan apa yang dikerjakannya? Karakter kerja keras ini terungkap dalam kebiasaan kerja yang tidak selalu dibatasi jam kantor dan komitmen yang dalam ketika menyelesaikan sebuah tugas.
Kelima, integritas dan kejujuran. Integritas adalah keberanian melakukan apa yang telah dikatakan atau diyakini, sedangkan kejujuran adalah keberanian mengatakan apa yang telah dilakukan. Tanpa integritas dan kejujuran sukar sekali seseorang entrepreneur memiliki bisnis yang berkelanjutan atau memiliki bisnis yang memberikan dampak positif pada masyarakat.
Warren Buffet salah seorang entrepreneur terkaya di dunia pernah mengatakan, "In hiring people look for three qualities: integrity, intelligence and energy. But if they don't have the first, the other two will kill you. (Dalam merekrut seseorang carilah 3 kualitas ini: integritas, kecerdasan dan semangat. Tapi bila mereka tidak memiliki yang pertama maka yang dua terakhir akan membunuhmu..")
Sekarang bagaimana dengan pendidikan yang menawarkan pembelajaran entrepreneurship? Akankah pengembangan karakter termasuk di dalamnya?
Bila sekolah atau perguruan tinggi memiliki komitmen yang sungguh membangun sosok entrepreneur dan bukan sekadar membagikan informasi tentang entrepreneurship maka seharusnya pengembangkan karakter dan juga kecakapan hidup (life skill) merupakan paket tak terpisahkan dari keseluruhan pembelajaran. Ini cocok dengan pernyataan Herbert Spencer yaitu" The great aim of education is not knowledge, but action".

Tidak ada komentar:

My Album

AYAT-AYAT CINTA